Tokoh Penemu • Bacaan anak SD
Mengenal Tokoh Penemu
Alexander Graham Bell, Sang Penghubung Suara dari Jauh
Sebelum ada telepon, manusia harus mengirim surat atau pesan telegraf untuk berbicara dari tempat yang berjauhan. Alexander Graham Bell dan rekan-rekannya membantu mengubah suara menjadi sinyal yang dapat berjalan melalui kabel.
Tumbuh di Keluarga yang Mempelajari Suara
Alexander Graham Bell lahir di Edinburgh, Skotlandia. Ayah dan kakeknya mengajar cara berbicara serta mengucapkan suara dengan jelas. Ayahnya mengembangkan sistem simbol bernama Visible Speech untuk menunjukkan posisi bibir, lidah, dan tenggorokan ketika berbicara.
Ibu Bell mengalami gangguan pendengaran. Bell kecil belajar berkomunikasi dengannya melalui tulisan dan berbicara sangat dekat agar getaran suara lebih mudah dirasakan. Kelak, istrinya, Mabel Hubbard, juga seorang perempuan tuli.
Pengalaman tersebut membuat Bell tertarik pada suara, pendengaran, dan cara manusia berkomunikasi. Setelah keluarganya pindah ke Kanada, Bell kemudian mengajar siswa tuli di Boston, Amerika Serikat.
Orang tuli dapat berkomunikasi dengan berbagai cara, termasuk bahasa isyarat. Bahasa isyarat adalah bahasa lengkap dengan tata bahasanya sendiri, bukan sekadar gerakan tangan sederhana.
Dari Telegraf Menuju Telepon
Pada masa Bell, telegraf dapat mengirim pesan berupa titik dan garis melalui kabel. Bell ingin mengirim beberapa nada sekaligus melalui satu kabel. Ia menyebut gagasannya telegraf harmonis.
Saat mempelajari getaran nada, Bell mulai membayangkan sesuatu yang lebih sulit: mungkinkah seluruh bentuk gelombang suara manusia diubah menjadi sinyal listrik, dikirim melalui kabel, lalu diubah kembali menjadi suara?
Untuk mewujudkannya, Bell bekerja bersama Thomas Augustus Watson, seorang ahli listrik dan pembuat mesin. Bell banyak mengembangkan gagasan tentang suara, sedangkan Watson membantu membangun dan memperbaiki perangkat percobaannya.
Alat Pertama Belum Bisa Mengirim Kata
Pada tahun 1875, Bell dan Watson membuat alat yang dapat mengirim bunyi melalui kabel, tetapi kata-katanya belum terdengar jelas. Alat itu menggunakan lempeng tipis yang bergetar ketika terkena suara.
Getaran tersebut mengubah arus listrik. Di ujung kabel, alat penerima mengubah perubahan listrik kembali menjadi getaran yang dapat didengar. Prinsip dasarnya masih dapat ditemukan pada mikrofon dan pengeras suara modern, walaupun teknologinya sekarang jauh lebih maju.
Suara → getaran → sinyal listrik → berjalan melalui kabel → getaran kembali → suara terdengar.
Panggilan yang Mengubah Sejarah
Pada 7 Maret 1876, Bell memperoleh paten Amerika Serikat nomor 174.465 untuk metode dan alat mengirimkan suara melalui listrik. Tiga hari kemudian, pada 10 Maret, ia melakukan percobaan telepon yang berhasil mengirim perkataan dengan jelas.
Bell berbicara kepada Watson yang berada di ruangan lain: “Mr. Watson—come here—I want to see you.” Watson mendengar dan memahami perkataan tersebut, lalu segera mendatangi Bell.
Kalimatnya sederhana, tetapi membuktikan bahwa suara manusia dapat dikirim melalui kabel dan dimengerti di tempat lain. Dari percobaan pendek itu lahir teknologi yang kemudian menghubungkan rumah, kota, dan negara.
Thomas Watson Bukan Sekadar Asisten
Watson memiliki kemampuan teknik yang sangat penting. Ia menerjemahkan banyak gagasan Bell menjadi benda nyata, memperbaiki komponen, dan ikut melakukan percobaan berulang kali.
Pada tahun 1877, Bell Telephone Company didirikan oleh Bell, Watson, Gardiner Greene Hubbard, Thomas Sanders, dan mitra lainnya. Telepon kemudian berkembang dari dua alat yang terhubung langsung menjadi jaringan dengan operator dan papan sambungan.
Kisah Bell dan Watson mengingatkan kita bahwa sebuah penemuan biasanya lahir dari kerja sama antara orang yang memiliki kemampuan berbeda.
Benarkah Bell Satu-satunya Penemu Telepon?
Tidak sesederhana itu. Sebelum dan pada masa Bell, banyak orang mencoba mengirim suara menggunakan listrik. Antonio Meucci membuat perangkat komunikasi suara, Johann Philipp Reis mengembangkan “telepon” eksperimental, dan Elisha Gray mengajukan gagasan pemancar suara pada hari yang sama dengan pengajuan paten Bell.
Bell mendapat paten telepon yang bertahan dalam berbagai persidangan dan berhasil mendemonstrasikan serta mengembangkan perangkatnya menjadi sistem yang dapat digunakan. Karena itulah ia paling sering disebut sebagai penemu telepon.
Bell adalah tokoh utama yang memperoleh paten dan mengembangkan telepon praktis, tetapi sejarah telepon merupakan hasil penelitian banyak orang—bukan karya satu orang saja.
Photophone: Mengirim Suara Melalui Cahaya
Telepon bukan satu-satunya percobaan komunikasi Bell. Bersama Charles Sumner Tainter, ia membuat Photophone, alat yang membawa suara melalui seberkas cahaya tanpa kabel.
Saat seseorang berbicara, suaranya membuat sebuah cermin tipis bergetar. Getaran itu mengubah pantulan cahaya. Di tempat penerima, perubahan cahaya diubah kembali menjadi suara.
Pada 3 Juni 1880, Bell dan Tainter berhasil mengirim pesan suara nirkabel menggunakan cahaya di Washington, D.C. Prinsipnya berbeda dari serat optik modern, tetapi gagasan bahwa cahaya dapat membawa informasi terasa sangat maju untuk zamannya.
Tidak Berhenti pada Komunikasi
Bell terus melakukan penelitian setelah telepon. Ia mencoba alat untuk menemukan logam di dalam tubuh, membantu mengembangkan rekaman suara, mempelajari pesawat terbang, dan membuat perahu cepat yang terangkat di atas air menggunakan sayap bawah air atau hydrofoil.
Di Kanada, Bell ikut membentuk Aerial Experiment Association. Tim ini mengembangkan beberapa pesawat percobaan. Lagi-lagi, hasilnya bukan karya Bell seorang diri, melainkan kerja sama insinyur dan penerbang.
Bell meninggal pada 2 Agustus 1922 di Nova Scotia, Kanada. Saat pemakamannya, layanan telepon di Amerika Utara dihentikan sejenak sebagai penghormatan atas perannya dalam mengubah komunikasi.
Ilmuwan Hebat Juga Bisa Memiliki Gagasan yang Keliru
Bell banyak bekerja dalam pendidikan orang tuli, tetapi ia lebih mengutamakan latihan berbicara dan membaca gerak bibir daripada bahasa isyarat. Sebagian pandangannya mengenai komunitas tuli kini dinilai keliru dan merugikan oleh banyak orang.
Sekarang, bahasa isyarat diakui sebagai bahasa yang lengkap dan penting bagi identitas serta pendidikan banyak orang tuli. Kita dapat menghargai penemuan Bell sambil tetap menilai gagasan lain secara kritis.
Tokoh besar bukan manusia sempurna. Kita dapat mempelajari keberhasilannya, mengakui bantuan orang lain, dan tidak mengulangi gagasan yang terbukti merugikan.
Pelajaran dari Bell
Apa yang Bisa Kita Tiru?
- Dengarkan kebutuhan manusia. Masalah komunikasi mendorong Bell mempelajari suara.
- Hubungkan berbagai ilmu. Telepon lahir dari pengetahuan tentang suara, listrik, dan mesin.
- Temukan rekan yang tepat. Bell dan Watson memiliki kemampuan yang saling melengkapi.
- Uji gagasan secara bertahap. Alat pertama belum mengirim kata dengan jelas, tetapi memberi petunjuk untuk percobaan berikutnya.
- Berani mengkritik tokoh besar. Menghargai prestasi tidak berarti menerima semua gagasannya.
Setiap kali kamu menelepon keluarga, mengikuti kelas daring, atau mengirim pesan suara, ingatlah bahwa teknologi komunikasi berkembang dari rasa ingin tahu dan kerja banyak orang selama ratusan tahun.
Ayo mengingat!
Bisakah Kamu Menjawab?
- Apa hubungan keluarga Bell dengan penelitian suara?
- Siapa Thomas Watson dan mengapa perannya penting?
- Bagaimana urutan sederhana suara dikirim melalui telepon?
- Mengapa Bell tidak tepat disebut sebagai satu-satunya penemu telepon?
- Apa perbedaan telepon dan Photophone?
Sumber Bacaan dan Gambar
- Library of Congress — Bell as Inventor and Scientist
- Library of Congress — Panggilan telepon 10 Maret 1876
- Library of Congress — Photophone
- Smithsonian — Telepon eksperimental Bell
- National Park Service — Volta Laboratory and Bureau
- Potret Alexander Graham Bell — Wikimedia Commons
- Model telepon Bell — Wikimedia Commons
- Thomas Watson dan telepon — Wikimedia Commons
- Ilustrasi Photophone — Wikimedia Commons